Tenun Berbahan Alami

a

Kunjungan belajar ke Pengrajin Tenun Palu Marung, Sumba Timur

Tidak sekedar mempesona, kain tenun Sumba juga menceritakan banyak hal tentang perjuangan dan filosofi suku-suku Sumba. Lebih menarik lagi ketika kain tenun dihubungkan dengan kehidupan spiritual orang Sumba (Marapu: Yang Utuh). Setiap suku di Sumba memiliki corak/motifnya sendiri yang belum diketahui banyak orang.

Kelahiran, pernikahan dan kematian tidak pernah terlepas dari penggunaan kain tenun. Pada kondisi lain bertenun merupakan salah satu sumber penghasilan keluarga. Ini disebabkan kerena semakin tingginya permintaan kain, bukan hanya untuk kepentingan adat tetapi juga digunakan pada berbagai kerajinan berbahan baku kain.b

Demikian antara lain hasil perbincangan Pak Ruben, (pengrajin tenun dan tokoh adat) dengan peserta studi banding di rumahnya, Kampung Palumarung, Lambanapu (Sumba Timur). Kegiatan ini bagian dari upaya melestarikan tenun tradisional. Selain mempertahankan identitas diri, pendapatan dari kain tenun dapat menopang ekonomi keluarga. Untuk mendapat hasil yang maksimal kain tenun harus mendapatkan perlakuan yang maksimal pula. Kain tenun sendiri terdiri atas tenun ikat dan tenun biasa.

Pada kesempatan itu, Pak Ruben mengajak peserta untuk manjaga kualitas tenun dan memakai bahan lokal. Dengan menjaga kualitas akan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk. Di samping itu, peserta juga dihimbau untuk menggunakan motif setempat, yang dapat menceritakan kondisi dan sejarah hidup warga setempat. Dengan menggunakan motif khas setempat, identitas produk akan mendapat tempat khusus di pasaran dan diyakini akan meningkatkan nilai penjualan kain*** (Tim Kobar)

 

YAYASAN PENGEMBANGAN KEMANUSIAAN DONDERS

YPK-DONDERS berdiri secara resmi pada tanggal 7 Januari 2010 dengan diterbitkannya AKTA PENDIRIAN dari Kemenkumham RI dengan nomor pendirian: AHU–3785.AH.01.04., Tahun 2010. tandatangan Notaris Budiono Widjaja, SH. NWP (Nomor Wajib Pajak) dikeluarkan oleh Kantor Pajak Waikabubak dengan nomor 02.958.548.6-926.000. Akta ini diperbaharui pada hari Jumat, 04 Desember 2015 dengan Nomor Pengesahan: AHU-0029164.AH.01.12.Tahun 2015. Dengan pembaharuan akta ini, maka nama lama YAYASAN SOSIAL DONDERS diubah menjadi YAYASAN PENGEMBANGAN KEMANUSIAAN DONDERS (YPK-Donders). Sesungguhnya sejarah berdirinya Yayasan ini sudah dimulai pada tahun 2008 berdasarkan hasil keputusan Kapitel Provinsi Redemptoris Indonesia. Amanat Kapitel ini ditindaklanjuti dengan lokakarya di tingkat Konventu yang membahas secara detil masalah-masalah sosial, khususnya yang ada di wilayah-wilayah pelayanan Kongregasi Redemptoris di Indonesia. Hasil lokakarya ini kemudian digodog oleh Badan Pengurus Yayasan ke dalam perangkat dasariah profil lembaga: Visi, Misi, Program-program Strategis, Divisi-divisi, Aktifitas-aktifitas Kunci, Prinsip, Nilai dan Pendekatan-pendekatan spesifik lembaga. Tujuan utama pendirian YPK-Donders pada mulanya adalah keinginan para konfrater Redemptoris untuk mengakomodasi semua karya sosial para konfrater di bawah satu lembaga yang berstatus hukum. Dalam perjalanannya, YPK-Donders memberikan fokus perhatiannya kepada karya-karya pengembangan kemanusiaan berdasarkan telaahan Visi dan Misi lembaga, dimulai di seluruh wilayah Sumba. Pada tahun 2009 sampai dengan tahun 2010, YPK-Donders masih lebih banyak memberikan fokus pelayanannya di Kabupaten Sumba Barat Daya, khususnya di usaha pendampingan warga desa, organisasi warga desa dan pemerintahan desa dalam perencanaan, pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan desa. Untuk memberikan tekanan kepada Visi dan Misi lembaga, YPK-Donders mulai mengembangkan karya pelayanan kepada “Komunitas Berkebutuhan Khusus” di 2 desa (Kalena Rongngo/kecamatan Kodi Utara dan Ate Dalo/kecamatan Kodi). Anggota komunitas ini sebagian besar adalah para pencuri/perampok dan mantan pencuri/perampok. Inisiatif ini dimulai pada awal tahun 2010 dengan assesment ke desa-desa kantong pencuri/perampok di wilayah Kodi dan Kodi Utara. Dari komunitas inilah muncul gagasan “Umma Peghe/Umma Pande” sebagai medium pembelajaran warga yang berbasis pada kearifan lokal Sumba. “Umma Peghe/Umma Pande” sekarang dikembangkan sebagai strategi pendekatan transformatif dan inovatif yang mengedepankan aset, potensi dan kekuatan-kekuatan lokal warga. Gagasan ini yang sekarang menjadi semakin kuat dalam 4 poros gerakan warga dampingan YPK-Donders: menuju kepada desa-desa yang bisa “Berdikari secara ekonomi”, “Bertenaga/berdaya secara sosial”, Bermartabat secara budaya”, dan “Berdaulat secara politik”. Sekarang ini ada 2 Umma Peghe di Ghombol/Kadaghu Tana/Kodi Utara, Mareha/Tanjung Karoso/Kodi dan 1 di desa Dikira/Wewewa Timur. Pada pertengahan bulan Oktober 2013, warga dari 10 kampung di desa Watu Kawula yang bergabung dalam 1 kelompok tani Gollu Dapi meminta YPK-Donders untuk mendampingi mereka dengan mereplikasi gagasan Umma Peghe/Pande. Proses pembangunan Umma Pande dimulai dengan sosialisasi, diskusi dan upaya membangun gerakan kekuatan lokal warga: dimulai dengan pembebasan sebidang tanah untuk lokasi pembangunan Umma Pande Gollu Dapi. Warga juga bergotong-royong mengumpulkan kayu, bambu, batu karang. Sekarang Umma Pande sudah diresmikan dan sedang dalam pembenahan fungsi pemakaiannya. Gagasan Umma Pande sebagai medium pembelajaran warga juga sedang direplikasi di Kelompok Tani Ndua Awa, desa Kabali Dana, Kecamatan Wewewa Barat. Pengalaman pendampingan “Komunitas Berkebutuhan Khusus” ini menguatkan YPK-Donders secara ke dalam untuk lebih berani mengembangkan karya-karya kemanusiaan dan membangun hubungan kerja dengan para pihak untuk penegakan martabat kemanusiaan yang lebih luas.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *