BERKAT DALAM KETERBATASAN

Mama Dede sedang menenun
Foto: DondersCreativeMedia

Dia terlahir dengan kondisi tidak dapat mendengar dengan baik dan tidak dapat berbicara normal sama seperti manusia dengar lainnya, tetapi adalah sosok perempuan hebat yang menginspirasi banyak orang untuk bekerja keras melampaui keterbatasan.

Dia yang sekarang menjadi petani yang berhasil pernah “dimanjakan” dengan alasan keterbatasan tersebut. Hampir selama 10 tahun di Waingapu, dia tidak bisa berbuat banyak hal karena dianggap tidak mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti manusia kebanyakan lainnya.

Sejak pulangnya ke Ombakacura, kampung kelahirannya, ia tinggal Bersama saudaranya Antonius Dangga Mesa, yang kerap akrab dipanggi Bapa Efri. Semenjak itu, dia diberi kepercayaan dan banyak kesempatan untuk melakukan pekerjaan seperti kebanyakan orang.

Menyandang keterbatasan sebagai orang bisu dan tuli, tidak boleh dijadikan sebagai stigma yang melumpuhkan diri sendiri untuk mengolah kemampuan lainnya, mengkatualisasikan diri sebagai mahkluk mulia dari Sang Pencipta! Dan……dia telah membuktikannya!

Hampir semua pekerjaan dilakukan dengan sangat telaten dan produktif. Bahkan pekerjaan stereotype laki-laki seperti membuat hulu parang atau membuat lesung dan alu, dapat dikerjakannya dengan sangat baik.

Walaupun komunikasinya hanya terbatas dengan menggunakan Bahasa isyarat, namun ia mampu bersosialisasi dengan baik. Ia tidak pernah mengenal “finger talk”. Ia hanya bisa menerjemahkan gerak tangan dan membaca gerak mulut lawan bicaranya,dan membalasnya dengan ekspresi, gerak mulut, dan gesture.

Dia menjadi perempuan Tangguh dan petani yang ulet dan berhasil. Pagi-pagi ia menembus kabut untuk menyapa tanaman hortikultura yang dikembangkannya. Ia mengontrol setiap tanaman, bedeng demi bedeng. Ia merawat tanaman ini seperti merawat dirinya sendiri. Karena ia sadar, pekerjaan inilah yang menghidupkan dirinya dan saudara-saudaranya.

Mama Dede sedang panen Hortikultura berupa kacang-kacangan.
Foto: DondersCreativeMedia

Keterbatasannya tidak pernah melumpuhkan dirinya untuk dekat dan bermain Bersama anak-anak. Menari adalah salah satu cara berekspresi bersama anak-anak. Ia melatih mereka dengan baik dan tenang. Menyaksikan bagaimana ia menari, terlihat bahwa ia sedang bercerita tentang hidup. Dia tidak sanggup mendengar dengan baik bunyi tambur dan gong, tetapi dia mengerti kapan dia melenturkan tangan, menggerakkan kaki, dan menggoyangkan kepalanya untuk bercerita tentang hidup dalam bentuk tarian.

Mama Dede sedang melatih tarian untuk anak-anak komunitas Ombakacura.
Foto: DondersCreativeMedia

Di dapur, dia adalah ibu yang menyiapkan makanan sehat dan segar bagi keluarga. Dia tahu apa yang terbaik, yang patut dilakukannya, menumbuk padi dan jagung, membersihkan sayuran segar, memasak dengan sepenuh hati.

Dengan bantuan YPK Donders yang mengutus TIMnya untuk mendampingi kelompok tani Ombakacura, dia turut terlibat dalam semua kegiatan pengembangan tanaman Hortikultura. Bersama 5 anggota kelompok lainnya, dia bekerja keras untuk menanam, merawat, panen, dan menjual hasil panen. Dengan model pengembangan pertanian ini, ia bisa menghasilkan jutaan rupiah per sekali panen. Kondisi ini memacu dirinya untuk terus bekerja keras, berjuang melampaui keterbatasan dirinya.

Kehadirannya dalam keluarga saat ini telah menjadi berkat. Segala keterbatasannya bukan lagi menjadi alasan untuk dimanjakan di rumah. Tetapi karena kemampuannya yang lain, serta upaya kerja keras untuk membuktikan dirinya, membuat seluruh keluarganya bangga. Kebanggaan ini terlahir dari kenyataan bahwa saudari mereka yang memiliki keterbatasan itu sanggup menjadi dirinya sendiri dan berjuang setiap saat untuk mengatasi keterbatasannya, mengolah kemampuannya yang lain dan membuktikan dirinya sebagai berkat bagi sesama.

“Tuhan tidak pernah mengajarkan kita untuk mengutuk keterbatasan yang kita miliki, tetapi dalam keterbatasan itu, Tuhan mampu menghadirkan berkat!”

YAYASAN PENGEMBANGAN KEMANUSIAAN DONDERS

YPK-DONDERS berdiri secara resmi pada tanggal 7 Januari 2010 dengan diterbitkannya AKTA PENDIRIAN dari Kemenkumham RI dengan nomor pendirian: AHU–3785.AH.01.04., Tahun 2010. tandatangan Notaris Budiono Widjaja, SH. NWP (Nomor Wajib Pajak) dikeluarkan oleh Kantor Pajak Waikabubak dengan nomor 02.958.548.6-926.000. Akta ini diperbaharui pada hari Jumat, 04 Desember 2015 dengan Nomor Pengesahan: AHU-0029164.AH.01.12.Tahun 2015. Dengan pembaharuan akta ini, maka nama lama YAYASAN SOSIAL DONDERS diubah menjadi YAYASAN PENGEMBANGAN KEMANUSIAAN DONDERS (YPK-Donders). Sesungguhnya sejarah berdirinya Yayasan ini sudah dimulai pada tahun 2008 berdasarkan hasil keputusan Kapitel Provinsi Redemptoris Indonesia. Amanat Kapitel ini ditindaklanjuti dengan lokakarya di tingkat Konventu yang membahas secara detil masalah-masalah sosial, khususnya yang ada di wilayah-wilayah pelayanan Kongregasi Redemptoris di Indonesia. Hasil lokakarya ini kemudian digodog oleh Badan Pengurus Yayasan ke dalam perangkat dasariah profil lembaga: Visi, Misi, Program-program Strategis, Divisi-divisi, Aktifitas-aktifitas Kunci, Prinsip, Nilai dan Pendekatan-pendekatan spesifik lembaga. Tujuan utama pendirian YPK-Donders pada mulanya adalah keinginan para konfrater Redemptoris untuk mengakomodasi semua karya sosial para konfrater di bawah satu lembaga yang berstatus hukum. Dalam perjalanannya, YPK-Donders memberikan fokus perhatiannya kepada karya-karya pengembangan kemanusiaan berdasarkan telaahan Visi dan Misi lembaga, dimulai di seluruh wilayah Sumba. Pada tahun 2009 sampai dengan tahun 2010, YPK-Donders masih lebih banyak memberikan fokus pelayanannya di Kabupaten Sumba Barat Daya, khususnya di usaha pendampingan warga desa, organisasi warga desa dan pemerintahan desa dalam perencanaan, pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan desa. Untuk memberikan tekanan kepada Visi dan Misi lembaga, YPK-Donders mulai mengembangkan karya pelayanan kepada “Komunitas Berkebutuhan Khusus” di 2 desa (Kalena Rongngo/kecamatan Kodi Utara dan Ate Dalo/kecamatan Kodi). Anggota komunitas ini sebagian besar adalah para pencuri/perampok dan mantan pencuri/perampok. Inisiatif ini dimulai pada awal tahun 2010 dengan assesment ke desa-desa kantong pencuri/perampok di wilayah Kodi dan Kodi Utara. Dari komunitas inilah muncul gagasan “Umma Peghe/Umma Pande” sebagai medium pembelajaran warga yang berbasis pada kearifan lokal Sumba. “Umma Peghe/Umma Pande” sekarang dikembangkan sebagai strategi pendekatan transformatif dan inovatif yang mengedepankan aset, potensi dan kekuatan-kekuatan lokal warga. Gagasan ini yang sekarang menjadi semakin kuat dalam 4 poros gerakan warga dampingan YPK-Donders: menuju kepada desa-desa yang bisa “Berdikari secara ekonomi”, “Bertenaga/berdaya secara sosial”, Bermartabat secara budaya”, dan “Berdaulat secara politik”. Sekarang ini ada 2 Umma Peghe di Ghombol/Kadaghu Tana/Kodi Utara, Mareha/Tanjung Karoso/Kodi dan 1 di desa Dikira/Wewewa Timur. Pada pertengahan bulan Oktober 2013, warga dari 10 kampung di desa Watu Kawula yang bergabung dalam 1 kelompok tani Gollu Dapi meminta YPK-Donders untuk mendampingi mereka dengan mereplikasi gagasan Umma Peghe/Pande. Proses pembangunan Umma Pande dimulai dengan sosialisasi, diskusi dan upaya membangun gerakan kekuatan lokal warga: dimulai dengan pembebasan sebidang tanah untuk lokasi pembangunan Umma Pande Gollu Dapi. Warga juga bergotong-royong mengumpulkan kayu, bambu, batu karang. Sekarang Umma Pande sudah diresmikan dan sedang dalam pembenahan fungsi pemakaiannya. Gagasan Umma Pande sebagai medium pembelajaran warga juga sedang direplikasi di Kelompok Tani Ndua Awa, desa Kabali Dana, Kecamatan Wewewa Barat. Pengalaman pendampingan “Komunitas Berkebutuhan Khusus” ini menguatkan YPK-Donders secara ke dalam untuk lebih berani mengembangkan karya-karya kemanusiaan dan membangun hubungan kerja dengan para pihak untuk penegakan martabat kemanusiaan yang lebih luas.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *