Beda Guru & Fasilitator

Picture2           LSM (lembaga/personil) berperan sebagai fasilitator. Untuk itu, kita perlu tahu perbedaan peran guru (pengajar, nara sumber, penyuluh, dan pelatih) dan fasilitator. Dengan demikian kita mampu mengambil peran yang tepat di masyarakat.

1. Pengelolaan kegiatan.

Guru berperan memfasilitasi masyarakat un-tuk melaksanakan kegiatan-kegiatan proyek (dari pihak luar). Sedangkan fasilitator berperan memfa-silitasi masyarakat agar mereka memiliki kegiatan-kegiatan mereka sendiri

2. Pengorganisasian masyarakat.

Guru mengorganisir mas-yarakat, sedangkan fasili-tator mendukung masyara-kat untuk mengorganisir dirinya sendiri

3. Pengelolaan informasi.

Guru berperan mengumpulkan informasi dan menganalisisnya, lalu menyerahkan kepada masyarakat untuk digunakan. Fasilitator memampukan masyarakat untuk mengumpulkan dan menganalisis sendiri informasi yang dibutuhkannya

4. Pembuatan rekomendasi.

Guru memberikan rekomendasi kepada masyarakat, sebaliknya fasilitator membantu masyarakat membuat rekomendasi sendiri

5. Pengelolaan pengetahuan.

Guru berperan mentransfer (mengalihkan) pengetahuan dan keahlian kepada masyarakat. Fasilitator berperan membantu masyarakat menghasilkan pengetahuan yang didasarkan pada kearifan lokal/tradisional

6. Desain (perancangan) program

Guru memakai pendekatan dari atas ke bawah dengan bertumpu pada teknologi. Fasilitator membantu masyarakat menyusun program dari bawah ke atas berdasarkan gagasan dan kebutuhan masyarakat

7. Pelaku utama program.

Guru cenderung aktif, masyarakat pasif /tergantung. Fasilitator membantu masyarakat untuk aktif dan mandiri agar masyarakat bertindak sebagai pelaku utama program.

8. Kepemilikan program/proyek.

Bersikap seperti guru, maka kita cenderung meli-batkan masyarakat dalam berbagai kegiatan pro-yek. bersikap sebagai fasilitator, maka kita (pihak/ proyek luar) justru yang terlibat mendukung berbagai kegiatan masyarakat. Masyarakat adalah pemilik proyek, pihak luar adalah pendukung.

Ingatlah selalu: personil, tim dan lembaga pendamping adalah fasilitator, bukan guru!

 

YAYASAN PENGEMBANGAN KEMANUSIAAN DONDERS

YPK-DONDERS berdiri secara resmi pada tanggal 7 Januari 2010 dengan diterbitkannya AKTA PENDIRIAN dari Kemenkumham RI dengan nomor pendirian: AHU–3785.AH.01.04., Tahun 2010. tandatangan Notaris Budiono Widjaja, SH. NWP (Nomor Wajib Pajak) dikeluarkan oleh Kantor Pajak Waikabubak dengan nomor 02.958.548.6-926.000. Akta ini diperbaharui pada hari Jumat, 04 Desember 2015 dengan Nomor Pengesahan: AHU-0029164.AH.01.12.Tahun 2015. Dengan pembaharuan akta ini, maka nama lama YAYASAN SOSIAL DONDERS diubah menjadi YAYASAN PENGEMBANGAN KEMANUSIAAN DONDERS (YPK-Donders). Sesungguhnya sejarah berdirinya Yayasan ini sudah dimulai pada tahun 2008 berdasarkan hasil keputusan Kapitel Provinsi Redemptoris Indonesia. Amanat Kapitel ini ditindaklanjuti dengan lokakarya di tingkat Konventu yang membahas secara detil masalah-masalah sosial, khususnya yang ada di wilayah-wilayah pelayanan Kongregasi Redemptoris di Indonesia. Hasil lokakarya ini kemudian digodog oleh Badan Pengurus Yayasan ke dalam perangkat dasariah profil lembaga: Visi, Misi, Program-program Strategis, Divisi-divisi, Aktifitas-aktifitas Kunci, Prinsip, Nilai dan Pendekatan-pendekatan spesifik lembaga. Tujuan utama pendirian YPK-Donders pada mulanya adalah keinginan para konfrater Redemptoris untuk mengakomodasi semua karya sosial para konfrater di bawah satu lembaga yang berstatus hukum. Dalam perjalanannya, YPK-Donders memberikan fokus perhatiannya kepada karya-karya pengembangan kemanusiaan berdasarkan telaahan Visi dan Misi lembaga, dimulai di seluruh wilayah Sumba. Pada tahun 2009 sampai dengan tahun 2010, YPK-Donders masih lebih banyak memberikan fokus pelayanannya di Kabupaten Sumba Barat Daya, khususnya di usaha pendampingan warga desa, organisasi warga desa dan pemerintahan desa dalam perencanaan, pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan desa. Untuk memberikan tekanan kepada Visi dan Misi lembaga, YPK-Donders mulai mengembangkan karya pelayanan kepada “Komunitas Berkebutuhan Khusus” di 2 desa (Kalena Rongngo/kecamatan Kodi Utara dan Ate Dalo/kecamatan Kodi). Anggota komunitas ini sebagian besar adalah para pencuri/perampok dan mantan pencuri/perampok. Inisiatif ini dimulai pada awal tahun 2010 dengan assesment ke desa-desa kantong pencuri/perampok di wilayah Kodi dan Kodi Utara. Dari komunitas inilah muncul gagasan “Umma Peghe/Umma Pande” sebagai medium pembelajaran warga yang berbasis pada kearifan lokal Sumba. “Umma Peghe/Umma Pande” sekarang dikembangkan sebagai strategi pendekatan transformatif dan inovatif yang mengedepankan aset, potensi dan kekuatan-kekuatan lokal warga. Gagasan ini yang sekarang menjadi semakin kuat dalam 4 poros gerakan warga dampingan YPK-Donders: menuju kepada desa-desa yang bisa “Berdikari secara ekonomi”, “Bertenaga/berdaya secara sosial”, Bermartabat secara budaya”, dan “Berdaulat secara politik”. Sekarang ini ada 2 Umma Peghe di Ghombol/Kadaghu Tana/Kodi Utara, Mareha/Tanjung Karoso/Kodi dan 1 di desa Dikira/Wewewa Timur. Pada pertengahan bulan Oktober 2013, warga dari 10 kampung di desa Watu Kawula yang bergabung dalam 1 kelompok tani Gollu Dapi meminta YPK-Donders untuk mendampingi mereka dengan mereplikasi gagasan Umma Peghe/Pande. Proses pembangunan Umma Pande dimulai dengan sosialisasi, diskusi dan upaya membangun gerakan kekuatan lokal warga: dimulai dengan pembebasan sebidang tanah untuk lokasi pembangunan Umma Pande Gollu Dapi. Warga juga bergotong-royong mengumpulkan kayu, bambu, batu karang. Sekarang Umma Pande sudah diresmikan dan sedang dalam pembenahan fungsi pemakaiannya. Gagasan Umma Pande sebagai medium pembelajaran warga juga sedang direplikasi di Kelompok Tani Ndua Awa, desa Kabali Dana, Kecamatan Wewewa Barat. Pengalaman pendampingan “Komunitas Berkebutuhan Khusus” ini menguatkan YPK-Donders secara ke dalam untuk lebih berani mengembangkan karya-karya kemanusiaan dan membangun hubungan kerja dengan para pihak untuk penegakan martabat kemanusiaan yang lebih luas.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *