TAHUN LAUDATO SI

 MENANAM POHON, MERAWAT BUMI!

 

Penyerahan simbolik anakan pohon dari Persemaian Permanen Wairasa kepada YPK-Donders, Foto @Rubo_Allwyn

Yayasan Pengembangan Kemanusiaan Donders sedang gencar mengkampanyekan seruan Paus Fransiskus “Laudato Si”. Kampanye ini diterjemahkan dalam karya nyata merawat bumi dengan menanam semakin banyak pohon. Dengan tujuan mulia merawat bumi ini, Donders difasilitasi oleh Ricky Bili, dari Dinas Lingkungan Hidup Sumba Tengah, akhirnya bisa menjalin kerja sama dengan Persemaian Permanen Wairasa, di bawah naungan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Benain Noelmina Kupang. Kerja sama ini dimulai pada hari ini, Rabu 16 Desember 2020.

Tahun 2020, Persemaian Permanen Wairasa dengan luas 1 hektar memproduksi 15 jenis tanaman yakni cendana, pinang, kelor, flamboyan, trembesi, gemelina, sengon, kadimbil (merbau), sirsak, rambutan, durian, sakura sumba (tringguli), Ketapang kencana, asam jawa, dan jambu mete. Minat masyarakat lebih banyak pada pohon buah-buahan. Sedangkan Tanaman kehutanan masih cukup rendah, tetapi juga karena masih ada yang kecil dan belum bisa didistribusi sehingga peminat harus menunggu sampai Januari 2021. Pada januari 2021 juga akan ada satu produksi benih baru yakni Jabon.

 

Penyaluran bibit ini adalah penyaluran untuk seluruh Sumba, baik individu maupun kelompok. Sangat diharapkan agar semakin banyak orang di Sumba mengetahui keberadaan Tempat Persemaian Permanen Wairasa ini supaya dengan kesadaran penuh untuk turut mengambil bagian dalam aksi menghijaukan Bumi Marapu. Persyaratan yang dibutuhkan adalah peminat menyiapkan surat permohonan dan fotokopi KTP, sedangkan pihak peresemaian akan menyiapkan berita acara serta surat pernyataan. Untuk jumlah pengambilan benih, 25 benih untuk satu KTP. Tetapi akan diberi kesempatan seluas-luasnya bagi orang atau Lembaga yang memiliki semangat dan komitmen yang kuat untuk menanam sesuai dengan luasnya lahan yang akan ditanam.

Lymson, yang sudah 4 tahun menjadi staf administrasi pada Persemaian Permanen Wairasa merasa sangat gembira dan optimis dengan kerja sama yang dibangun ini. “Kami sangat senang bahwa Lembaga Donders bisa membantu kami dalam hal menanam dan merawat Sumba untuk semakin hijau. Kami mengharapkan kerja sama ini akan berlanjut, karena kami butuh orang-orang yang berkomitmen kuat untuk menghijaukan Sumba. Soal benih, jangan takut. Benih yang kami produksi dibagikan secara gratis kepada setiap orang di Pulau Sumba ini. ”

Demikian pula dengan P. Mikhe Keraf, CSsR, Direktur YPK Donders. “Kami memang terlambat mendapatkan informasi tentang benih-benih pohon berbuah dan tanaman kehutanan yang didistribusikan gratis oleh Persemaian Permanen Wairasa. Tetapi kami optimis bahwa kita belum terlambat untuk menghijaukan bumi kita.”

Tahun 2019, Donders bekerja sama dengan PLN menanam 6000 pohon berbuah di sepanjang sungai Lokomboro. Dan tahun ini Donders akan menanam kelor, cendana, Merbau, dan Flamboyan. Lokasi yang akan ditanam adalah di Pantai Oga – desa Pogotena, Wanno Donders – Kalembu NgaA Bangga, dan di Bukit Dullo desa Tematana.

“Mari kita merawat bumi dengan menanam semakin banyak pohon. Setiap jengkal tanah kita yang kosong harus ditanami dengan pohon berbuah atau tanaman hijau. Sebab, dengan menanam semakin banyak pohon, kita mengambil bagian dalam memperpanjang usia Bumi kita.” (Ubas)

 

YAYASAN PENGEMBANGAN KEMANUSIAAN DONDERS

YPK-DONDERS berdiri secara resmi pada tanggal 7 Januari 2010 dengan diterbitkannya AKTA PENDIRIAN dari Kemenkumham RI dengan nomor pendirian: AHU–3785.AH.01.04., Tahun 2010. tandatangan Notaris Budiono Widjaja, SH. NWP (Nomor Wajib Pajak) dikeluarkan oleh Kantor Pajak Waikabubak dengan nomor 02.958.548.6-926.000. Akta ini diperbaharui pada hari Jumat, 04 Desember 2015 dengan Nomor Pengesahan: AHU-0029164.AH.01.12.Tahun 2015. Dengan pembaharuan akta ini, maka nama lama YAYASAN SOSIAL DONDERS diubah menjadi YAYASAN PENGEMBANGAN KEMANUSIAAN DONDERS (YPK-Donders). Sesungguhnya sejarah berdirinya Yayasan ini sudah dimulai pada tahun 2008 berdasarkan hasil keputusan Kapitel Provinsi Redemptoris Indonesia. Amanat Kapitel ini ditindaklanjuti dengan lokakarya di tingkat Konventu yang membahas secara detil masalah-masalah sosial, khususnya yang ada di wilayah-wilayah pelayanan Kongregasi Redemptoris di Indonesia. Hasil lokakarya ini kemudian digodog oleh Badan Pengurus Yayasan ke dalam perangkat dasariah profil lembaga: Visi, Misi, Program-program Strategis, Divisi-divisi, Aktifitas-aktifitas Kunci, Prinsip, Nilai dan Pendekatan-pendekatan spesifik lembaga. Tujuan utama pendirian YPK-Donders pada mulanya adalah keinginan para konfrater Redemptoris untuk mengakomodasi semua karya sosial para konfrater di bawah satu lembaga yang berstatus hukum. Dalam perjalanannya, YPK-Donders memberikan fokus perhatiannya kepada karya-karya pengembangan kemanusiaan berdasarkan telaahan Visi dan Misi lembaga, dimulai di seluruh wilayah Sumba. Pada tahun 2009 sampai dengan tahun 2010, YPK-Donders masih lebih banyak memberikan fokus pelayanannya di Kabupaten Sumba Barat Daya, khususnya di usaha pendampingan warga desa, organisasi warga desa dan pemerintahan desa dalam perencanaan, pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan desa. Untuk memberikan tekanan kepada Visi dan Misi lembaga, YPK-Donders mulai mengembangkan karya pelayanan kepada “Komunitas Berkebutuhan Khusus” di 2 desa (Kalena Rongngo/kecamatan Kodi Utara dan Ate Dalo/kecamatan Kodi). Anggota komunitas ini sebagian besar adalah para pencuri/perampok dan mantan pencuri/perampok. Inisiatif ini dimulai pada awal tahun 2010 dengan assesment ke desa-desa kantong pencuri/perampok di wilayah Kodi dan Kodi Utara. Dari komunitas inilah muncul gagasan “Umma Peghe/Umma Pande” sebagai medium pembelajaran warga yang berbasis pada kearifan lokal Sumba. “Umma Peghe/Umma Pande” sekarang dikembangkan sebagai strategi pendekatan transformatif dan inovatif yang mengedepankan aset, potensi dan kekuatan-kekuatan lokal warga. Gagasan ini yang sekarang menjadi semakin kuat dalam 4 poros gerakan warga dampingan YPK-Donders: menuju kepada desa-desa yang bisa “Berdikari secara ekonomi”, “Bertenaga/berdaya secara sosial”, Bermartabat secara budaya”, dan “Berdaulat secara politik”. Sekarang ini ada 2 Umma Peghe di Ghombol/Kadaghu Tana/Kodi Utara, Mareha/Tanjung Karoso/Kodi dan 1 di desa Dikira/Wewewa Timur. Pada pertengahan bulan Oktober 2013, warga dari 10 kampung di desa Watu Kawula yang bergabung dalam 1 kelompok tani Gollu Dapi meminta YPK-Donders untuk mendampingi mereka dengan mereplikasi gagasan Umma Peghe/Pande. Proses pembangunan Umma Pande dimulai dengan sosialisasi, diskusi dan upaya membangun gerakan kekuatan lokal warga: dimulai dengan pembebasan sebidang tanah untuk lokasi pembangunan Umma Pande Gollu Dapi. Warga juga bergotong-royong mengumpulkan kayu, bambu, batu karang. Sekarang Umma Pande sudah diresmikan dan sedang dalam pembenahan fungsi pemakaiannya. Gagasan Umma Pande sebagai medium pembelajaran warga juga sedang direplikasi di Kelompok Tani Ndua Awa, desa Kabali Dana, Kecamatan Wewewa Barat. Pengalaman pendampingan “Komunitas Berkebutuhan Khusus” ini menguatkan YPK-Donders secara ke dalam untuk lebih berani mengembangkan karya-karya kemanusiaan dan membangun hubungan kerja dengan para pihak untuk penegakan martabat kemanusiaan yang lebih luas.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *